Anda sering merasakan nyeri pada lutut ketika bangun
dari jongkok atau naik tangga? Mungkin Anda menderita osteoarthritis!
Osteoarthritis memang tidak sepopuler osteoporosis atau
tulang keropos. Namun osteoarthritis merupakan salah satu jenis dari keluarga
besar penyakit Arthritis yang paling sering terjadi. Literatur menunjukkan 1
dari 6 populasi menderita penyakit OA ini. Data yang dilansir oleh Badan
Kesehatan Dunia (WHO), menyebutkan 40 persen penduduk dunia yang berusia lebih
dari 70 tahun akan menderita osteoarthritis lutut. Dari jumlah tersebut, 80
persen di antaranya berdampak pada keterbatasan gerak.
Osteoarthritis
termasuk penyakit nomor 2 setelah penyakit jantung yang mengganggu aktivitas
kita.Walaupun tidak menimbulkan kematian tetapi bisa mengganggu aktivitas
penderitanya dan menyebabkan gangguan dalam produktivitas karena menyebabkan
sendi lutut terasa nyeri, kaku, dan bengkak sehingga seringkali menyebabkan
gerak sendi terbatas.
Mari kita telusuri lebih lanjut mengenai osteoarthritis
(disingkat OA) ini. Apa dan Siapa yang
dapat terserang penyakit ini? Osteoarthritis adalah peradangan sendi
yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa
disintegrasi (pecah) dan perlunakan progresif permukaan sendi dengan
pertumbuhan tulang rawan sendi (osteofit) di tepi tulang.
Mari kita simak dari segi anatomi. Kartilago hyalin
(jaringan tulang rawan) adalah jaringan elastis yang berfungsi sebagai bantalan
dimana tulang bertemu dan bergerak. Fungsinya ibarat penyangga atau shock
breaker pada mobil. Bantalan ini juga bermanfaat sebagai pelumas. Dengan adanya
bantalan tersebut, maka tidak akan terasa sakit saat menggerakkan persendian.
Apabila kerusakan kartilago hyalin berlangsung lebih cepat daripada
kemampuannya untuk memperbaiki dirinya sendiri, maka terjadi penipisan tulang
rawan dan kehilangan pelumas sehingga kedua tulang akan bersentuhan. Inilah
yang menyebabkan rasa sakit pada
Setelah terjadi kerusakan tulang rawan,
sendi dan tulangnya juga ikut berubah. Pada permukaan sendi yang sudah aus,
terjadilah pengapuran. Yaitu tumbuhnya tulang baru yang merupakan mekanisme
pertahanan tubuh untuk menjadikan sendi kembali stabil. Tapi ini justru membuat
sendi menjadi kaku.
Sendi yang biasanya menjadi sasaran penyakit ini adalah sendi yang sering digunakan sebagai penopang berat badan seperti sendi lutut, sendi tulang belakang, dan sendi panggul. Selain itu juga pada sendi tangan/kaki. Jika tidak diobati, sakit akan bertambah sampai tidak bisa berjalan. Selain itu, tulang bisa mengalami perubahan bentuk atau deformity. Jika dibiarkan, osteoarthritis dapat menyebabkan cacat permanen pada tulang. Bentuk tulang bisa berubah menjadi bengkok baik ke dalam maupun keluar. Untuk itu penyakit tersebut perlu diwaspadai karena mempunyai dampak jangka panjang. Dampak tersebut baru dirasakan penderita 10 tahun kemudian.
Setelah terjadi kerusakan tulang rawan,
sendi dan tulangnya juga ikut berubah. Pada permukaan sendi yang sudah aus,
terjadilah pengapuran. Yaitu tumbuhnya tulang baru yang merupakan mekanisme
pertahanan tubuh untuk menjadikan sendi kembali stabil. Tapi ini justru membuat
sendi menjadi kaku.Sendi yang biasanya menjadi sasaran penyakit ini adalah sendi yang sering digunakan sebagai penopang berat badan seperti sendi lutut, sendi tulang belakang, dan sendi panggul. Selain itu juga pada sendi tangan/kaki. Jika tidak diobati, sakit akan bertambah sampai tidak bisa berjalan. Selain itu, tulang bisa mengalami perubahan bentuk atau deformity. Jika dibiarkan, osteoarthritis dapat menyebabkan cacat permanen pada tulang. Bentuk tulang bisa berubah menjadi bengkok baik ke dalam maupun keluar. Untuk itu penyakit tersebut perlu diwaspadai karena mempunyai dampak jangka panjang. Dampak tersebut baru dirasakan penderita 10 tahun kemudian.
Untuk mengetahui gejalanya, harus lewat pemeriksaan
laboratorium dan rontgen. Bila ada laju endap darah dan kolesterol meningkat
maka dapat diidentifikasi sebagai gejala osteoarthitis sehingga perlu segera
diobati.
Osteoarthritis adalah suatu penyakit degeneratif. Ini
merupakan aging process yang biasanya terjadi pada mereka yang berada di
kelompok usia 50 tahun ke atas. Namun penyakit ini juga bisa menyerang segala
usia, termasuk 300 ribu anak di Amerika Serikat menderita penyakit ini.
Ada
dua macam Osteoarthritis :
1.
Osteoarthritis Primer: dialami setelah usia 45 tahun, sebagai akibat dari proses penuaan alami,
tidak diketahui penyebab pastinya, menyerang secara perlahan tapi progresif,
dan dapat mengenai lebih dari satu persendian. Biasanya menyerang sendi yang
menanggung berat badan seperti lutut dan panggul, bisa juga menyerang punggung,
leher, dan jari-jari.
2.
Osteoarthritis Sekunder: dialami sebelum usia 45
tahun, biasanya disebabkan
oleh trauma (instabilitas) yang menyebabkan luka pada sendi (misalnya patah
tulang atau permukaan sendi tidak sejajar), akibat sendi yang longgar, dan
pembedahan pada sendi. Penyebab lainnya adalah faktor genetik dan penyakit
metabolik.
Apa Gejala OA?
Penyakit
ini bisa tanpa gejala (asimptomatik), artinya walaupun menurut hasil X-ray
hampir 70% diantara kita yang melewati usia 70 tahun dideteksi menderita
penyakit OA, tetapi hanya setengahnya yang mengeluhkan gejalanya, sedangkan
sisanya hidup secara normal.
Berikut
ini tanda-tanda serangan OA:
1.
Persendian
terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan.
Pada mulanya hanya terjadi pada pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambah buruk dan menimbulkan rasa sakit setiap melakukan gerakan tertentu, terutama pada waktu menopang berat badan, namun bisa membaik bila diistirahatkan. Pada beberapa penderita, nyeri sendi dapat timbul setelah istirahat lama, misalnya duduk di kursi atau di jok mobil dalam perjalanan jauh. Terkadang juga dirasakan setelah bangun tidur di pagi hari.
Pada mulanya hanya terjadi pada pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambah buruk dan menimbulkan rasa sakit setiap melakukan gerakan tertentu, terutama pada waktu menopang berat badan, namun bisa membaik bila diistirahatkan. Pada beberapa penderita, nyeri sendi dapat timbul setelah istirahat lama, misalnya duduk di kursi atau di jok mobil dalam perjalanan jauh. Terkadang juga dirasakan setelah bangun tidur di pagi hari.
2.
Adanya
pembengkakan/peradangan pada persendian.
3.
Persendian
yang sakit berwarna kemerah-merahan.
4.
Kelelahan
yang menyertai rasa sakit pada persendian.
5.
Kesulitan
menggunakan persendian.
6.
Bunyi
pada setiap persendian (crepitus). Gejala ini tidak menimbulkan rasa sakit,
hanya rasa tidak nyaman pada setiap persendian (umumnya lutut).
7.
Perubahan
bentuk tulang.
Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin rusak, tulang mulai berubah bentuk dan meradang, menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.
Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin rusak, tulang mulai berubah bentuk dan meradang, menimbulkan rasa sakit yang amat sangat.
Apa Faktor resiko terjadinya OA?
1.
Usia
diatas 50 tahun
2.
Wanita.
Menurut penelitian di Amerika Serikat, OA lebih sering menyerang wanita dibandingkan pria. Ini berhubungan dengan menopause. Pada periode ini, hormon estrogen tidak berfungsi lagi. Sementara salah satu fungsi hormon ini adalah untuk mempertahankan massa tulang. Bentuk tubuh perempuan juga menjadi penyebab mengapa perempuan lebih berisiko mengalami osteoarthritis. Tubuh wanita lebih lebar di bagian pinggul, sementara laki-laki cenderung lurus. Biasanya lemak bertambah di pinggul dan perut ketika perempuan beranjak tua. Ini jelas akan memberikan beban yang lebih besar untuk lutut.
Menurut penelitian di Amerika Serikat, OA lebih sering menyerang wanita dibandingkan pria. Ini berhubungan dengan menopause. Pada periode ini, hormon estrogen tidak berfungsi lagi. Sementara salah satu fungsi hormon ini adalah untuk mempertahankan massa tulang. Bentuk tubuh perempuan juga menjadi penyebab mengapa perempuan lebih berisiko mengalami osteoarthritis. Tubuh wanita lebih lebar di bagian pinggul, sementara laki-laki cenderung lurus. Biasanya lemak bertambah di pinggul dan perut ketika perempuan beranjak tua. Ini jelas akan memberikan beban yang lebih besar untuk lutut.
3.
Kegemukan
4.
Riwayat
imobilisasi
5.
Riwayat
trauma atau radang di persendian sebelumnya
6.
Adanya
stress pada sendi yang berkepanjangan, misalnya pada olahragawan.
7.
Adanya
kristal pada cairan sendi atau tulang rawan
8.
Densitas
tulang yang tinggi
9.
Neurophaty
perifer
10.
Faktor
lainnya: ras, keturunan, dan metabolik.
Bagaimana Pencegahan OA?
OA
dapat dihindari dengan mengeliminir faktor predisposisi di atas. Sebagai tips,
lakukan hal-hal berikut untuk menghindari sedini mungkin Anda terserang OA atau
membuat OA Anda tidak kambuh, yaitu dengan:
1.
Menjaga
berat badan. Merupakan faktor yang penting agar bobot yang ditanggung oleh
sendi menjadi ringan
2.
Melakukan
jenis olahraga yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan
terjadinya perlukaan sendi. Contohnya berenang dan olahraga yang bisa dilakukan
sambil duduk dan tiduran.
3.
Aktivitas
olahraga hendaknya disesuaikan dengan umur. Jangan memaksa untuk melakukan
olahraga porsi berat pada usia lanjut. Tidak melakukan aktivitas gerak pun
sangat tidak dianjurkan. Tubuh yang tidak digerakkan akan mengundang
osteoporosis.
4.
Menghindari
perlukaan pada persendian
5.
Meminum
obat-obatan suplemen sendi (atas anjuran dokter)
6.
Mengkonsumsi
makanan sehat.
7.
Memilih
alas kaki yang tepat & nyaman.
8.
Lakukan
relaksasi dengan berbagai teknik.
9.
Hindari
gerakan yang meregangkan sendi jari tangan.
10.
Jika
ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan dibiarkan. Hal
tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata pada semua permukaan
tulang.
Bagaimana Pengobatan Osteoarthritis?
Pengobatan
dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan luas pergerakan sendi
sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Cara pengobatan adalah dengan
edukasi kepada pasien untuk terus menjaga kesehatan persendiannya dengan
mengetahui seluk beluk osteoarthritis, olahraga yang ringan, modifikasi
aktivitas keseharian yang sesuai, pengobatan dengan menggunakan Glucosamine dan
Chondroitin, terapi alternatif, suntik sendi, dan yang paling serius dilakukan
adalah operasi pembedahan.
Perjalanan
penyakit osteoarthritis terdiri dari empat stadium. Pada stadium yang lebih
awal, seperti stadium 1 dan 2, pengobatannya dapat dilakukan dengan penanganan
umum atau pencegahan, pemberian obat-obatan, atau pembersihan sendi. Salah satu
suplemen makanan yang digunakan untuk terapi OA adalah Glucosamine dan
Chondroitin, masing-masing memiliki fungsi yaitu:
1.
Chondroitin
Sulfat berguna untuk merangsang pertumbuhan tulang rawan dan menghambat
perusakan tulang rawan
2.
Glukosamin
adalah bahan pembentukan proteoglycan, bekerja dengan merangsang pertumbuhan
tulang rawan, serta menghambat perusakan tulang rawan
Pembersihan
dan pencucian sendi yang dikenal dengan istilah debridement dan lavage saat ini
dapat dilakukan dengan bantuan arthroscopy. Lewat alat ini dokter dapat
memasukkan teropong kecil ke dalam sendi dan melihat keadaan sendi di layar
monitor.
Alat
ini juga dapat digunakan untuk diagnosis dan terapi (pengobatan) pada sendi,
baik sendi lutut, bahu, siku, pergelangan tangan, kaki, maupun panggul dengan
indikasi utama untuk cedera sendi akibat olahraga. Sebelumnya, penanganan
osteoarthritis dilakukan dengan operasi konvensional, yakni teknik operasi
dengan luka besar. Teknik ini memerlukan proses pemulihan lebih lama dan risiko
operasi pun lebih besar. Dengan arthroscopy, risiko tersebut bisa dikurangi.
Luka untuk memasukkan alat ini sangat kecil, sekitar 1,5 centimeter dan
biasanya hanya diperlukan dua buah luka kecil sehingga secara kosmetik akan
tampak lebih baik.
Dalam
penggunaan arthroscopy, dokter melakukan pembersihan sendi yang sakit dengan
mencucinya hingga bersih. Selain itu, dokter dapat pula melihat langsung ke
dalam sendi dan apabila ada kelainan maka dapat dilakukan perbaikan atau tindakan
lain melalui luka yang kecil tadi. Kelainan dalam sendi yang sulit dilihat
dengan pemeriksaan radiologis dapat pula dilihat secara langsung melalui
arthroscopy.
Pada
stadium lanjut, seperti stadium 3 dan 4, sering kali sendi, terutama lutut,
menjadi bengkok sehingga diperlukan penggantian sendi lutut. Tindakan yang
disebut arthroplasty itu adalah penggantian permukaan sendi pangkal paha.
Setelah operasi ini, pasien dapat berjalan kembali dengan baik tanpa terasa
nyeri.
Untuk
tips perawatannya : Berikan kompres air hangat pada bagian yang sakit untuk
mengurangi nyeri, relaksasi, dan melancarkan aliran darah. Berikan kompres
dingin untuk mengurangi rasa sakit dan ketegangan otot saat terjadi kekambuhan.
Jika
ada gejala osteoporosis, dapat dilakukan terapi hormon, pemberian kalsium, dan
vitamin D.
Mari
cegah osteoarthritis sebelum Anda menderita karenanya!!!.
Sandal Jepit Dapat Mengobati Osteoarthritis? jum'at, 26 maret 2010 | 15:48 WIB
TEMPO Interaktif, Chicago - Sandal jepit dan sneaker dengan sol yang fleksibel jauh lebih
ringan bagi lutut daripada kelom atau bahkan sepatu khusus untuk berjalan.
Studi yang dilakukan Rush University Medical Center di Chicago, Amerika Serikat
itu juga mengungkap bahwa beban pada sendi lutut adalah faktor utama yang memperburuk
osteoarthritis.
Hasil studi itu dipublikasikan dalam jurnal Arthritis Care & Research. “Secara tradisional alas kaki dirancang untuk memberikan penyokong dan kenyamanan maksimum untuk kaki, tapi kurang memperhatikan efek biomekanis bagi tungkai kaki secara keseluruhan,” kata Dr. Najia Shakoor, seorang rheumatologist di Rush dan peneliti utama studi itu. “Tapi sebenarnya sepatu yang kita kenakan mempunyai dampak substansial pada beban yang disangga oleh sendi lutut, terutama ketika kita berjalan.”
Bentuk alas kaki, kata Shakoor, amat mempengaruhi beban pada lutut. “Studi kami mendemonstrasikan bahwa alas kaki rata dan fleksibel mengurangi beban pada sendi lutut dibandingkan dengan sepatu penyokong stabil dengan sol yang kurang lentur.”
Osteoarthritis adalah bentuk arthritis paling umum dan merupakan sumber kelumpuhan dan menganggu kualitas hidup penderitanya. Beban tinggi di atas normal pada lutut adalah karakteristik penyakit pengapuran sendi itu, yang diasosiasikan baik dengan tingkat keparahan osteoarthritis maupun perkembangannya.
Shakoor dan timnya menganalisis cara jalan 31 pasien yang menunjukkan gejala osteoarthritis di Rush Motion Analysis Lab ketika mereka berjalan tanpa alas kaki dan dengan mengenakan empat jenis sepatu populer, iatu kelom Dansko, yang kerap digunakan pekerja kesehatan setiap hari; sepatu Brooks Addiction stability, yang kerap diresepkan untuk stabilitas dan kenyamanan kaki; sepatu Puma H-Street, sepatu atletik rata dengan sol fleksibel; dan sandal jepit.
Riset itu memperlihatkan bahwa beban pada sendi lutut berbeda secara signifikan sesuai alas kaki yang dikenakan. Pada pengguna kelom dan sepatu stabilitas, beban pada sendi lutut 15 persen lebih besar daripada pengguna sepatu jalan datar, sandal jepit atau tanpa alas kaki. Beban pada lutut hampir sama pada pengguna sandal jepit atau kaki telanjang.
Hasil studi itu dipublikasikan dalam jurnal Arthritis Care & Research. “Secara tradisional alas kaki dirancang untuk memberikan penyokong dan kenyamanan maksimum untuk kaki, tapi kurang memperhatikan efek biomekanis bagi tungkai kaki secara keseluruhan,” kata Dr. Najia Shakoor, seorang rheumatologist di Rush dan peneliti utama studi itu. “Tapi sebenarnya sepatu yang kita kenakan mempunyai dampak substansial pada beban yang disangga oleh sendi lutut, terutama ketika kita berjalan.”
Bentuk alas kaki, kata Shakoor, amat mempengaruhi beban pada lutut. “Studi kami mendemonstrasikan bahwa alas kaki rata dan fleksibel mengurangi beban pada sendi lutut dibandingkan dengan sepatu penyokong stabil dengan sol yang kurang lentur.”
Osteoarthritis adalah bentuk arthritis paling umum dan merupakan sumber kelumpuhan dan menganggu kualitas hidup penderitanya. Beban tinggi di atas normal pada lutut adalah karakteristik penyakit pengapuran sendi itu, yang diasosiasikan baik dengan tingkat keparahan osteoarthritis maupun perkembangannya.
Shakoor dan timnya menganalisis cara jalan 31 pasien yang menunjukkan gejala osteoarthritis di Rush Motion Analysis Lab ketika mereka berjalan tanpa alas kaki dan dengan mengenakan empat jenis sepatu populer, iatu kelom Dansko, yang kerap digunakan pekerja kesehatan setiap hari; sepatu Brooks Addiction stability, yang kerap diresepkan untuk stabilitas dan kenyamanan kaki; sepatu Puma H-Street, sepatu atletik rata dengan sol fleksibel; dan sandal jepit.
Riset itu memperlihatkan bahwa beban pada sendi lutut berbeda secara signifikan sesuai alas kaki yang dikenakan. Pada pengguna kelom dan sepatu stabilitas, beban pada sendi lutut 15 persen lebih besar daripada pengguna sepatu jalan datar, sandal jepit atau tanpa alas kaki. Beban pada lutut hampir sama pada pengguna sandal jepit atau kaki telanjang.
Tak banyak
yang tahu kalau lintah ternyata juga bermanfaat untuk mengobati radang sendi.
Nyeri akibat radang sendi pada lutut yang menyebabkan penderitanya sulit bergerak
ini dapat diatasi dengan memanfaatkan kemampuan lintah menghasilkan zat
menyerupai morfin, pereda nyeri paling ampuh! Hebat bukan? Tak hanya itu,
lintah juga menghasilkan zat antikoagulan yang melancarkan aliran darah ke area
di mana lintah ditempelkan. Lintah juga berperan sebagai anti radang. Karena
itulah para peneliti meyakini bahwa radang yang memunculkan gejala-gejala
radang sendi ini dapat diobati dengan menggunakan lintah. Karena itulah
pengobatan radang sendi dengan menggunakan lintah kini semakin gencar dilakukan
di berbagai negara.
Pengobatan dengan menggunakan lintah ini sendiri sudah
diakui oleh US Food and Drug Administration (FDA). Lembaga ini
mengklasifikasikan lintah sebagai salah satu alat medis dan telah menyetujui
penggunaan lintah untuk operasi kecil. Di Jerman, diperkirakan sekitar 70.000
pengobatan dalam beberapa tahun terakhir ini yang memanfaatkan lintah.
Pengobatan dengan menggunakan lintah ini sebagian besar dilakukan untuk
mengurangi nyeri pada penderita radang sendi.
Beberapa
penelitian sudah membuktikan besarnya manfaat lintah tersebut. Sebuah studi
yang dilakukan untuk meneliti penggunaan lintah dalam mengobati radang sendi,
yang dipublikasikan dalam Annals of the Rheumatic Diseases, misalnya, telah
membuktikannya. Dalam penelitian yang difokuskan pada 16 pasien dengan
rata-rata usia 68 tahun dengan nyeri sendi yang selalu muncul dalam kurun waktu
lebih dari enam bulan, lintah terbukti efektif meredakan nyeri sendi pada
lutut.
Dalam
penelitian ini, empat ekor lintah ditempelkan ke lutut selama 80 menit pada 8
orang pasien, sedangkan 8 pasien lainnya menjalani pengobatan tradisional.
Tingkat nyeri mereka diukur tiga hari sebelum dan 28 hari sesudah pengobatan.
Hasilnya ternyata sangat luar biasa pada pasien yang menjalani pengobatan
dengan menggunakan lintah. Nyeri yang mereka alami berkurang sesudah tiga hari
tanpa efek samping dan terus demikian selama periode 28 hari itu. Hal ini tidak
dialami oleh pasien-pasien dalam grup lainnya.
Ingin bukti lainnya? Studi yang
melibatkan 51 pasien dengan usia minimal 40 tahun yang menderita nyeri sendi
pada lutut menunjukkan hasil yang sama. Empat hingga enam ekor lintah
ditempelkan ke bagian lutut yang sakit selama 70 menit. Setelah itu mereka
diminta untuk mengistirahatkan lutut selama 12 jam. Hasilnya, para pasien yang
menjalani terapi lintah ini merasakan nyeri sendinya berkurang. Sendinya juga
tidak terasa kaku lagi dan gejala-gejala lainnya pun ikut berkurang.
Menurut
WHO, osteoporosis adalah penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa
tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang. Osteoporosis
bukan hanya berkurangnya kepadatan tulang tetapi juga penurunan kekuatan
tulang. Pada osteoporosis kerusakan tulang lebih cepat daripada perbaikan yang
dilakukan oleh tubuh. Osteoporosis sering disebut juga dengan keropos tulang.
Tulang-tulang yang sering mengalami fraktur/patah yaitu : tulang ruas tulang
belakang, tulang pinggul, tungkai dan pergelangan lengan bawah.

Gambar 1. Tulang yang osteoporosis
Faktor
risiko yang memudahkan Osteoporosis :
1. Asupan zat gizi yang
tidak seimbang khususnya kurang kalsium dan vitamin D
2. Proses penuaan
3. Faktor keturunan
Pencegahan osteoporosis sejak dini dilakukan dengan
berbagai cara, diantaranya adalah:
1. Asupan zat gizi yang
berkaitan dengan pembentukan tulang seperti kalsium,vitamin D
2. Aktivitas fisik yang
teratur sangat penting untuk pembentukan tulang
Kekerasan tulang setiap orang akan berangsur-angsur
menurun setelah memasuki umur 40 tahun. Pada wanita, menopause mempercepat
proses pengeroposan tulang ini, khususnya jika mereka memiliki tulang-tulang
yang tipis atau kecil, berambut merah atau pirang atau kulitnya
berbintik-bintik, keturunan orang Eropa Utara atau Asia atau tidak pernah
mempunyai anak. Merokok, hidup menetap, minum kortikosteroid, dan mengkonsumsi
makanan yang mengandung sedikit kalsium juga meningkatkan resiko pengeroposan
ini. Makin awal mengalami menopause, semakin tinggi resiko anda.

Gambar 2. Proses osteoporosis seiring
dengan bertambah usia
Gaya Hidup Sehat untuk mencegah osteoporosis adalah :
·
Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang yang memenuhi
kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat,rendah lemak,dan kaya kalsium (1000
-1500 mg per hari). Pastikan diet anda mengandung 1000 miligram kalsium
per hari ( jika anda pra menopause ) atau 1500 miligram per hari (jika anda
post-menopause). Hindari suplemen yang berasal dari dolomite atau tepung
tulang, bagaimanapun juga dalam mengkonsumsi kalsium jangan melebihi 1500
miligram kalsium per hari
Makanan kaya kalsium
·
Kurangi sodium, garam, daging merah, dan makanan yang
diasinkan
·
Mulailah program reguler, latihan mempertahankan berat
badan seperti jalan-jalan, jogging, bersepeda atau aerobik yang tak berpengaruh
atau pegaruhnya rendah
Berolahraga untuk pencegahan dini osteoporosis
·
Hindari minum kopi secara berlebihan karena dapat
mengeluarkan kalsium secara berlebihan, kurangi juga softdrink/minuman ringan
karena dapat menghambat penyerapan kalsium
·
Hindari minuman beralkohol dan rokok karena dapat
menyerap cadangan kalsium dalam tubuh.
·
Paparan matahari (di pagi hari dan sore menjelang magrib
) membantu pembentukan vitamin D
Tanyakan pada dokter
tentang terapi penggantian estrogen yang dapat mencegah osteoporosis dan
efek-efek samping dari menopause yang lain.[](TRH)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar